Apa yang Membingkaimu?

Apa yang Membingkaimu?

“Untuk mereka yang gamang, kembali melangkah, atau tergantikan”

Tempo hari saya bertemu dengan seorang teman di kampus. Dari mimik wajahnya di kejauhan 100 meter, saya tahu dia sedang sangat senang. Penasaran, saya beranikan diri untuk bertanya, hal apa yang membuatnya tidak henti tersenyum dari awal bertemu.

“Kepengurusan di organisasi yang saya pimpin sudah selesai. Sudah tidak ada lagi yang akan membebani pikiran-pikiran saya, mengganggu waktu-waktu kosong saya dengan rapat rutin, dan berhenti mengurus masalah yang sebenarnya bukan masalah saya. Saya bebas!” Dia bercerita dengan lancar dan emosi yang meluap-luap. Sedemikian besar kebahagiaannya karena bisa melepas tanggung jawabnya. Saya hanya bisa ikut tersenyum bahagia.

Di lain kesempatan, saya juga bertemu dengan seorang teman lainnya di kampus. Dari mimik wajahnya di kejauhan 100 meter, saya tahu dia sedang dirundung kesedihan. Wajahnya lesu, tatapannya kosong, dan jalannya gontai. Penasaran, saya kembalikan beranikan diri untuk bertanya, hal apa yang membuatnya seolah tidak memiliki gairah hidup.

“Saya sedih kepengurusan di organisasi yang saya pimpin sudah selesai. Tidak akan ada lagi yang menyibukkan pikiran-pikiran saya, rapat-rapat rutin yang selalu saya agendakan tiap minggunya, dan membantu mereka yang sedang mengalami permasalahan. Saya masih mau di organisasi ini.” Dari kata-katanya, saya bisa bisa merasakan kesedihan yang begitu besar dan hatinya yang begitu berat menanggalkan amanahnya. Kali ini, saya kembali hanya bisa tersenyum memberi semangat kepada dia.

Dari cerita kedua teman saya, ada kesamaan di antara mereka berdua, yakni sama-sama menjadi pemegang amanah di sebuah organisasi yang mereka pimpin. Tapi, keduanya memiliki respon yang berbeda di penghujung kepengurusan mereka. Lalu, apa yang menjadi penyebabnya?

Sebelumnya membahasnya, saya punya satu lagi cerita, yang saya yakin, teman-teman banyak yang sudah mengetahuinya. Cerita ini mengenai Imam Syafi’fi dan muridnya. Di dalam sebuah pertemuan, si Murid bertanya kepada sang Guru mengenai perjanalannya ke Mekah.

“Ya Guru, beberapa minggu yang lalu aku melakukan perjalanan ke Mekah. Dan di sana, aku tidak menemukan satu pun masjid. Tempat yang aku temukan justru club-club malam dan tempat-tempat perjudian. Sangat berbeda dengan Mekah yang diceritakan sebagai kota suci” Si Murid bertanya dengan antusias. Ini kali pertama dia menginjakkan kaki di Mekah, dan sungguh kaget ketika pengalaman seperti itu yang dia dapatkan. Imam Syafi’I yang mendengar cerita muridnya lantas balas menanggapi.

“Benar kah? Aku tempo hari pergi ke Las Vegas, dan tahukah kau apa yang kutemui di sana? Masjid, aku menemukan banyak sekali masjid di sana. Aku bahkan tidak menemukan satu pun tempat perjudian dan club.” Si Murid benar-benar kebingungan. Cerita gurunya mengenai Las Vegas benar-benar berbeda dengan apa yang diceritakan orang-orang, yakni sebagai tempat perjudian nomor satu di dunia. Dengan rasa penasaran yang teramat sangat, sang Murid bertanya kembali.

“Kenapa bisa begitu, ya Guru?”

Lalu Imam Syafi’I menjawab dengan tenang “Kau akan menemukan apa yang kau cari.”

Begitu lah kisah Imam Syafi’I dan muridnya. Jika kita kembali kepada kedua teman saya dan menghubungkan dengan cerita barusan, maka secara tidak langsung kita akan mendapatkan jawaban, penyebab dari perbedaan sikap mereka di akhir kepengurusan, yaitu karena apa yang mereka cari ternyata berbeda.

Pada teman yang pertama, saya tidak tahu motivasi seperti apa yang membuatnya dulu menjadi pemimpin di organisasi itu. Di kahir kepengurusan, dia begitu senang karena pekerjaannya sudah selesai, tidak akan terkungkung oleh aturan-aturan yang dulu membatasinya. Dia ingin kembali bebas dan tidak perlu mau melanjutkan perjuangannya untuk bermanfaat.

Pada teman yang kedua, saya juga tidak tahu motivasi apa yang membuatnya menjadi ketua di organisasi itu. Di akhir kepengurusan, dia begitu sedih. Seluruh rutinitas yang dulu membangunnya menjadi orang yang sibuk, kini selesai. Selesai di saat dia masih mau bermanfaat untuk orang banyak. Bahkan dia mau melanjutkan perjuangannya selepas dari organisasi itu.

Apa yang teman pertama saya cari, mungkin tidak lebih hanya pengalaman. Sesuatu yang suatu hari dapat dia banggakan dan ceritakan kepada orang lain, bahwa dirinya pernah sibuk dan bermanfaat. Dia membingkai niat kebermanfaatan dengan tujuan mencari pengalaman. Maka di akhir kepengurusan, dia tidak mau lagi melangkah lebih jauh untuk bermanfaat. Sudah kapok dan merasa cukup. Dia senang, karena merasa telah mendapat apa yang dia cari.

Berlanjut kepada teman saya yang kedua, apa yang dia cari adalah kebermanfaat tanpa putus dan keluarga baru. Rapat-rapat rutin tidak hanya mengasahnya menjadi disiplin dengan waktu, tapi membuatnya memiliki teman yang telah dianggap keluarga baginya. Tiap menit yang dia lakukan untuk bermanfaat bagi orang banyak pun, selalu dia nikmati sebagai ladang pahala yang terus mengalir. Dia membingkai niat kebermanfaatan dengan tujuan mencari keluarga baru, bukan hanya pengalaman Maka tak kala masa kepengurusan telah selesai, kesedihan yang harus dia rasakan, karena tempatnya membangun keluarga baru sekaligus ladang pahala, harus tergantikan. Dia sedih, walau merasa mendapat apa yang dia cari.

Apa yang membingkaimu? Mungkin ini yang perlu kita tanyakan ketika ingin mengambil keputusan mengikuti sesuatu. Niat mungkin saja baik, tapi jika tujuannya hanya sedangkal mata kaki dan niat dibingkai olehnya, maka hasil akhir yang didapat juga akan dangkal. Ingat, kita akan mendapat apa yang kita cari.

Sebelum bulat tujuan dan tekad kita untuk menyelam ke dalam sebuah ranah, pikirkan kembali tentang tujuannya. Perdalam, pikirkan dampaknya lebih jauh, dan hal-hal bermanfaat lain yang bisa membuat diri kita dan lingkungan berkembang lebih luas. Lalu, bila sudah tahu tujuan jangka panjang kebermanfaatan itu, bingkailah niatmu dengannya. Maka kau akan mendapatkan sesuatu yang lebih. Sesuatu yang bukan hanya pengalaman, tapi juga keluarga.

 

Iklan

Tiga Jejak: Sukabumi, Miri, Tegal

Jejak 1: SUKABUMI

Anti Speaker!

Tidak ada yang pernah bilang perjanalan ini akan memakan waktu 7 jam dari Depok. Itu pun baru sampai di lokasi berkumpul, harus ditambah sekitar 1,5 jam menggunakan mobil Jeep untuk mencapai tempat aksi yang sesungguhnya. Badanku bukan main pegalnya.

Bis tua itu, aku tidak tahu kenapa kampus masih menggunakannya. Tidak hanya busa di tempat duduk penumpang yang sudah setipis kain, tiap menghantam lubang, seluruh penumpang harus rela badannya terbang sesaat lalu menghantam kerasnya besi tempat duduk. Jadi bisa dibayangkan, di tengah mimpi indah saat sedang tidur, aku tiba-tiba merasakan sensasi terbang sesaat di dalam mimpi lalu terbangun dengan rasa linu di bagian pinggul. Hingga hasilnya dari malam hingga subuh, tidurku selalu terbangun dengan sensasi yang sama.

Masjid Jampang Kulon, itu nama tempat aku dan sekitar 100 orang panitia-pengajar Gerakan UI Mengajar (GUIM) berkumpul, sebelum kami berpisah ke enam titik yang berbeda. Tujuannya satu, yakni mengajar anak-anak di Sukabumi, pelosok Provinsi Jawa Barat selama kurang lebih sebulan. Aku bersama 15 orang lainnya ditempatkan di desa Cimahpar, sebuah dusun yang terletak di kecamatan Jampang Kulon. Tidak mudah untuk mencapainya, kami harus menumpang mobil Jeep yang biasa digunakan di jalur offroad. Jalan menuju lokasi bukan lagi aspal yang tertata rapih, tapi bebatuan yang ditumpuk sekenanya. Belum lagi kontur jalanan yang naik turun bertepi jurang curam. Bahkan saat itu aku tidak percaya, kondisi seperti ini masih ada di Jawa Barat, provinsi yang dalam beberapa sektor paling maju di pulau Jawa.
Berkat rahmat Tuhan yang maha pengasih, setelah berkali-kali menahan napas tiap mobil Jeep meraung-raung mendaki tanjakan bebatuan, aku dan ke 14 orang lainnya akhirnya sampai di tujuan. Desa Cimahpar.

Jeep

Salah Satu Mobil Jeep yang Kami Gunakan Untuk Mencapai Lokasi Aksi

Secara geografis, desa ini terletak di bagian paling Selatan Kabupaten Sukabumi. Letaknya berada di tengah-tengah hutan dengan akses jalan yang cukup sulit dilalui kendaraan standar (kendaraan yang bukan dirancang untuk medan berat). Masyarakat banyak yang berprofesi sebagai petani dan berkebun. Akses listrik sudah cukup memadai, meskipun masih sering padam di saat-saat tertentu. Jika di siang hari, kondisinya cukup panas, karena bukan berada di dataran tinggi. Namun, jika bangun di pagi hari dan berada di luar rumah, maka kita dapat melihat embun napas kita. Sebagai anak yang tumbuh besar di Jakarta, aku hanya bisa norak melihat napas sendiri yang berembun.

“Sepi banget, ya, di sini.” Gumamku. Sepi yang kumaksud, yakni ketika semua diam dan tidak melakukan aktivitas apa pun, maka yang terdengar hanya suara gesekan dedaunan yang tertiup angin. Tidak ada sayup suara kendaraan atau pun benda elektronik.

“Wajar, Man. Kalau sore begini banyak yang masih di sawah sama kebun. Warganya juga banyak yang aspek (anti-speaker), jadi sepi.” Puyul, koordinator lapangan GUIM mencoba menjelaskan keadaan.

Aku sudah di-briefing mengenai hal ini ketika berada di Depok. Meskipun listrik sudah masuk desa, warga masih memiliki kearifan lokal yang unik, yakni tidak mau menggunakan benda-benda elektronik yang mengeluarkan suara berisik. Sehingga benda seperti televisi, radio, dan speaker, haram hukumnya di sini.

Benar saja, saat waktu sudah memasuki waktu Ashar, alih-alih mendengar suara azan dari speaker masjid, aku mendengar suara ketukan kayu dari suatu tempat yang jauh di belakang rumah. Ketukan itu lalu berlanjut ke tempat yang lebih dekat, dan di selang waktu yang tidak begitu lama ketukan berlanjut lagi ke tempat yang cukup jauh di depan rumah. Hingga akhirnya suara ketukan makin menjauh dan hanya sayup-sayup terdengar.

“Itu suara penanda waktu solat. Masjid utama kasih tanda pake ketokan, terus dilanjutin sama mushola-mushola lainnya.” Seakan menjawab kebingungan teman-teman yang lain, Puyul menjelaskan maksud dari ketukan tadi. “Semacam azan estafet.”

Aku tidak tahu kenapa warga tidak begitu memanfaatkan keberadaan listrik secara maksimal. Di saat ada desa-desa lain di Indonesia yang menginginkan listrik masuk ke desa mereka agar mempermudah arus informasi masuk, tapi di sini malah hanya digunakan untuk menghidupkan lampu.

Setelah Jeep pulang kembali ke Jampang Kulon, kami para panitia mulai mengantarkan para pengajar ke rumah hostfam mereka masing-masing. Di GUIM, para panitia dan pengajar tinggal di tempat yang terpisah. Panitia yang berjumlah 9-10 orang tinggal di satu rumah bersama-sama. Sedangkan, pengajar yang berjumlah 6 orang tinggal terpisah bersama orangtua asuh mereka.

Rumah pengajar pertama yang diantar, yakni Ria. Dia tinggal bersama pak Dayat, tokoh masyarakat sekaligus komite sekolah di SDN 2 Cimahpar tempat kami akan melakukan aksi. Pak Dayat merupakan representatif orang Sunda sesungguhnya, suka becanda dan menyebut konsonan “F” dengan konsonan “P”. Segala hal dibuat bercanda, hingga pernah dia menanyakan sesuatu kepadaku.

“Kak Pirman (meskipun pak Dayat jauh lebih tua, dia tetap memanggilku “kak”), punya film Cina Ngamuk, gak?” Saya yang baru pertama kali mendengar istilah “Cina Ngamuk” kebingunan. “Itu Kak, yang orang Cina berantemnya jago.” Saat itu aku baru ngeh, yang dimaksud pak Dayat adalah film action Jackie Chan.

Begitu lah beliau, karena sifatnya yang jenaka kami para panitia dan pengajar menjadi sangat dekat dengannya. Dari beliau juga aku tahu, kalau warga yang menganut sistem aspek hanya beberapa saja. Diam-diam banyak warga yang memiliki televisi di rumahnya, tapi mereka menyetel volume suara dalam tingkat yang paling kecil. Warga juga sangat senang jika ada hiburan musik di desanya. Tapi, semuanya tabu dibicarakan secara umum di sini.

“Memang dilarang kenapa, Pak?”Aku masih penasaran kenapa warga di sini seakan terkekang oleh peraturan yang sebenarnya mereka tidak mau.

“Ya biasa, perintah dari pak Ustad di Cikiwul, Kak.” Aku langsung pahan dengan orang yang dimaksud pak Dayat. Begitu hebatnya peran tokoh masyarakat di sini, sekali bertitah, maka semua akan mengikuti. “Kalau ga nurut, nanti bisa dikucilin masyarakat, dicap kafir, sampai yang paling parah diusir dari desa.” Entah sedang bercanda atau tidak, pak Dayat langsung memasang mimik serius.

“Ih, di sini juga orang-orangnya panatis, Kak. Kemarin ada yang dicurigain jadi dukun dan nayntet warga. Ga lama mayatnya ditemuin di kali deket sini.” Sumpah, aku sama sekali tidak bertanya atau memancing pertanyaan ini. Tapi pak Dayat sepertinya senang melihat kami yang langsung terperangah kebingungan. Bingung harus merespon apa.

“Biar selama di sini baik-baik aja, terus harus gimana atuh, Pak?” Andio yang dari tadi hanya jadi pendengar, sekarang mulai memberanikan diri bertanya.

“Harus nurut atuh makanya!” pak Dayat menjawab sambil menggebrak meja. Semua hening terdiam. Berharap mobil Jeep datang lagi menjemput. “Takut, ya? Hahaha, becanda atuh.” Suara helaan napas yang sempat tercekat langsung memenuhi ruangan. Semua lega karena ternyata kata-kata pak Dayat hanya becanda.

“Eh, tapi yang diusir kampung karena ga dengerin kata Ustad itu beneran, ya.” Dengan santai pak Dayat mulai menyalakan rokok kreteknya.

 

Diam-diam, aku dan teman-teman langsung menyetel handphone dalam mode diam.

Tiga Jejak: Sukabumi, Miri, Tegal

Tiga Jejak: Sukabumi, Miri, Tegal

Semahal-mahalnya ingatan, masih lebih berharga sebuah tinta yang murah, demikian pepatah Cina yang pernah saya baca, entah di mana. Maknanya sederhana, yakni meminta seseorang untuk menulis. Begitu menurut penafsiran saya. Tiga Jejak: Sukabumi, Miri, Tegal merupakan kumpulan pengalaman saya ketika berada di pedalaman dalam kurun waktu 2015–2016. Masing-masing tempat, Sukabumi, Miri, dan Tegal, saya sambangi dalam rentang waktu yang cukup berjauhan. Sukabumi di bulan Januari 2015, Miri di bulan Agustus 2015, dan Tegal di bulan Januari 2016. Semua tempat itu saya datangi dengan tujuan dan kurang lebih dengan jangka waktu yang sama, yakni untuk mengajar dalam kurun waktu satu bulan.

Cerita dan pengalaman mengajar itu selama ini hanya tertuang dalam cerita berupa lisan saja, itu pun jika ada yang bertanya. Hingga akhirnya datang beberapa desakan dari teman yang meminta saya untuk menulisnya. Desakan ini tidak lantas saya langsung ikuti, perlu waktu untuk mempertimbangkannya. Karena bagi saya, menulis bukan hanya perkara bercerita melalui tulisan, tapi merupakan proses yang cukup sakral. Perlu ada penyatuan hati dan pikiran yang harus berjalan bersama. Motivasi dalam menulis pun harus kuat. Karena saya tidak mau, cerita yang saya tulis hanya akan berlalu dan tidak meninggalkan kesan apa pun kepada pembaca. Saya juga tidak mau, motivasi saya luntur di tengah-tengah proses menulis, yang nantinya menyebabkan tulisan saya berhenti dan tidak tuntas. Saya ingin membuat pembaca tersesat di tengah aksara yang saya rangkai, membuat mereka seakan ada di dalam cerita.

Hingga akhirnya motivasi itu datang dari sebuah pesan singkat seorang siswi yang dulu pernah saya ajar. Isinya singkat, yakni dia mengatakan tidak bisa melanjutkan sekolah ke SMP karena harus dinikahkah oleh orangtuanya. Di saat itu, seakan ada sebuah tangan yang menampar pipi dan berbisik, kamu harus menulis. Kenapa? Karena semua orang harus tahu, di tahun 2016, yang katanya merupakan zaman moderen, ada seorang anak di pelosok Jawa Barat, yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena akan dinikahkan oleh orangtuanya. Padahal saya tahu potensi anak itu, dia rangking dua di kelas, bahkan dia bercita-cita ingin menjadi polwan. Namun semua harus terputus karena orangtuanya memaksa untuk menikah.

Maka saat ini saya menulis. Bukan lagi karena paksaan, tapi untuk memberi tahu para pembaca kondisi anak-anak yang tinggal di daerah pedalaman, yang nantinya saya harapkan, mereka dapat lebih mensyukuri hidup dan berusaha untuk lebih peduli terhadap sekitar. Tiga Jejak: Sukabumi, Miri, Tegal semoga menjadi jendela yang akan menghubungkan mereka yang hidup di kota-kota besar dengan mereka yang tinggal di ujung Indonesia. Mereka harus tahu, wajah pendidikan di negara yang sudah 70 tahun merdeka ini.

 

Depok – Jakarta, 18 Februari 2016

M.Z.F

Semangat Bermanfaat!

Semangat Bermanfaat!

Waktu melesat bagai anak panah yang terlepas dari busurnya. Cepat dan tanpa terasa membelah angin. Rasanya masih terbayang ketika pertama kali saya termenung berjam-jam di atas kasur tipis kosan, merenungi tawaran untuk mengamban amanah baru. Menjadi Project Officer GUIM 5.

Dan sekarang, saya kembali dalam keadaan yang sama, termenung berjam-jam di atas kasur tipis kosan. Bukan untuk menggalaui hal yang sama, tapi berusaha mengingat kembali, motivasi apa yang membawa saya terlibat sejauh ini.

Masih lekat di ingatan saya, ketika masih duduk di bangku SMA dan sedang menempuh UTS. Keluarga saya saat itu sedang dilanda kesulitan ekonomi, sehingga saya harus menunggak biaya SPP. Hal ini berakibat fatal, yakni saya terancam tidak bisa mengikuti ujian. Hal ini pula yang menyebabkan saya harus menghadap Kepala TU untuk meminta perizinan agar tetap bisa mengikuti ujian.

Setelah memohon dan bercerita penyebab saya belum bisa bayar SPP, saya diizinkan mengikuti ujian dan mendapatkan bonus. Bonusnya adalah hardikkan dari Kepala TU untuk saya, yang isinya kurang lebih “Ini sekolah butuh biaya, kalau engga mampu buat bayar, ya engga usah sekolah”.

Saat itu saya sakit hati dihardik di kantor TU yang sedang ramai dengan anak-anak lain yang memiliki kepentingan yang sama. Sangat sakit hati. Tapi saya berusaha meredam, karena bagaimana pun juga beliau gerbang saya mendapatkan tiket mengikuti ujian.

Beberapa tahun kemudian, sakit hati karena bonus itu masih tertanam di hati saya. Sakit hati yang akhirnya berbuah pertanyaan, apa benar seseorang harus punya uang agar bisa merasakan pendidikan? Sekapitalis itu kah pendidikan di negara ini? Saya perlu jawaban dan pembuktian.

Maka setelah berlelah-lelah belajar dan kerja keras, takdir akhirnya membawa saya berkuliah di kampus ini, UI. Saat itu saya bertekad, tidak akan membebani orangtua karena biaya kuliah. Sehingga hal yang pertama kali saya lakukan, yakni mencari beasiswa.

Gayung pun bersambut, setelah berusaha mencari informasi ke sana–ke mari, saya mendapatkan beasiswa yang mau membiayai kuliah saya. Full tanpa harus saya membayar biaya sepersen pun. Semua itu tidak lepas dari kakak-kakak di Advokasi Kesejahteraan Mahasiswa (Adkesma) yang juga memberi saya informasi dan membantu memeberi rekomendasi. Pertanyaan saya yang dulu akhirnya mendapatkan jawabannya.

Merasa berhutang budi, saya mendaftarkan diri di BEM fakultas pada tahun pertama. Departemen yang saya pilih, tidak lain ialah Adkesma. Selain untuk balas budi, alasan lainnya saya ingin membantu orang-orang yang juga mencari jawaban seperti saya. Maka pengabdian di sini berjalan tanpa saya rasakan dua periode saya telah lewati. Insya Allah, ada banyak senyum lega karena terbantu masalah akademis dan biaya kuliah, ketika saya mengadvokasikan permasalahan mereka ke pemangku kebijakan kampus.

Tapi jiwa sosial saya tidak hilang ketika selesai masa jabatan di BEM Adkesma. Hati saya masih terasa sakit melihat anak-anak kurus yang bekerja memungut botol, atau orangtua renta buta yang berjualan kerupuk di pinggir jalan. Saya masih merasa berdosa ketika sedang makan daging ayam, lalu teringat pemulung yang harus makan satu nasi bungkus bertiga dengan anak-anaknya. Dan hati saya masih menangis, ketika berada dalam lingkungan hedonis anak-anak borjuis kampus, lalu mendengar kabar teman yang harus putus kuliahnya karena masalah ekonomi.

Saya masih mau bermanfaat dan membenci diri saya yang hidup enak, ketika ada saudara saya yang terinjak di bawahnya. Saya mau membantu mereka, bagaimana pun caranya.

Maka ketika tawaran bergabung di GUIM 4 datang, saya tidak sia-siakan. Di Sukabumi selama sebulan saya mengabdi, dan di sana saya banyak menemukan ironi yang mengiris hati. Anak laki-laki yang harus putus sekolah karena harus bekerja, anak perempuan yang harus menikah muda karena tuntutan orangtuanya, dan anak berkebutuhan khusus (down syndrome) yang dikucilkan karena dianggap bodoh. Maka selama sebulan di sana, saya melakukan apa yang saya dan teman-teman lain bisa lakukan. Bahkan sampai dua orang harus dirawat di rumah sakit karena kecapean.

Tapi hasilnya, apa yang kami lakukan tidak hanya mengubah paradigma orangtua murid tentang keberlangsungan pendidikan anak-anaknya, tapi juga kami telah dianggap bagian dari mereka. Maka ketika masa pengabdian telah selesai, bagai melepas anak ke perantauan, masyarakat dan kami begitu terasa berat melepas satu sama lain. Saya mendapatkan kampung kedua untuk pulang.

Semangat bermanfaat saya belum pada, malah semakin membara. Hal ini yang membawa saya mengabdi ke tempat yang lebih jauh, yaitu Malaysia. Selama sebulan lamanya saya mengajar anak-anak TKI di Miri. Masalah-masalah yang saya temukan di sana tidak begitu jauh dengan yang ada di Sukabumi, namun di sini skalanya lebih besar dan sangat dipersulit birokrasi. Pemerintah Serawak tidak mengizinkan anak-anak untuk bersekolah formal. Sehingga didirkan sebuah sekolah informal oleh para TKI untuk anak-anak di sana.

Sekolah darurat, secara harafiah demikian. Ruangan kayu yang hanya seluas 2×6 meter dipakai untuk menampung 40 siswa SD-SMP. Jumlah guru yang hanya satu orang, itu pun diambil dari TKI yang berkeja di ladang kelapa sawit sehingga kualitas mengajarnya jauh dari layak. Buku-buku pelajaran yang amat tidak memadai. Dan juga papan tulis kapur yang hanya ada satu. Hal ini membuat kami para pengajar terkadang harus menggunakan lantai kayu kelas sebagai papan tulis. Semua di sini serba darurat.

Aku pulang ke Indonesia dengan perasaan runyam. Karena tidak seperti di Sukabumi, tugas-tugasku di Malaysia lebih pelik dan tidak bisa terselesaikan dalam waktu satu bulan. Pengalaman yang aku punya tidak cukup untuk membantu anak-anak di sana. Hal ini membuat semangatku untuk belajar lebih banyak tentang gerakan sosial mengajar makin membeludak. Aku harus menggali ilmu di tempat lain.

Motivasi-motivasi yang membuat saya terjun dalam ranah sosial, berawal dari masa SMA lalu berlanjut ke masa perkuliahan dan sampai di masa sekarang ini, semuanya terakumulasi menjadi satu. Ketika saya mendapatkan hinaan karena tidak mampu membayar SPP, melihat teman yang bekerja sebagai kuli bangunan karena tidak mampu bersekolah, anak-anak di Sukabumi dan Miri yang harus menghadapi bayang-bayang dinikahi dan bekerja di ladang, serta bantuan-bantuan dari orang lain yang akhirnya membuat saya ada di titik ini. Semuanya berkecamuk di hati saya. Semuanya yang akhirnya mendorong saya lebih peka terhadap keadaan sekitar. Semuanya yang akhirnya menjadi jawaban, kenapa saya mau menjadi Project Officer gerakan ini. Saya ingin bermanfaat.

Tepat tanggal 6 Januari 2016, saya dan teman-teman GUIM 5 akan melakukan pengabdian lainnya di tanah Tegal. Di sana ada beribu permasalahan yang menunggu jawaban dari kami, para intelektual muda yang suatu saat akan memimpin bangsa ini. Hati saya selalu berdebar dan merinding mengingat waktu eksekusi ini, karena saya tahu, ada ratusan mahasiswa dengan semangat yang sama akan datang ke sana dan berusaha membawa ribuan solusi kontekstual untuk masalah yang ada.

Saya tidak pernah tahu motivasi apa yang membawa 36 pengajar dan 54 panitia berada GUIM 5, tapi jika itu karena ingin bermanfaat. Maka bagi saya itu lebih dari cukup.

Mawar dan Burung Pipit

Mawar dan Burung Pipit

Sore itu angin selatan tidak begitu kencang membelai helai-helai bulu yang terbang, membelah langit yang sedang biru-birunya. Sayapnya terentang dengan kokoh sambil matanya menyapu dengan cermat tiap bagian di celah gunungitu. Ia mencari kesempatan, entah apa.

Di lain tempat, di antara padang-padang yang mengadah menatap langit, kuntum bunga mawar merekah. Kelopaknya mengembang bagai awan yang tersapa angin. Terus merekah terbuka merahnya, menantang siapa yang berani melihat. Siapa pun juga.

Sapuan mata sang burung Pipit tertahan. Tehenti pada keindahan yang dia belum pernah mengenalnya. Lewat wangi dan pesona, Mawar merah mengundang Pipit untuk datang. Singgah dan berbagi kisah.

Mereka akhirnya bertemu untuk satu keharusan. Menuntaskan saling berbagi dan bercerita kisah masing-masing. Tentang Pipit yang selalu terbang dan melihat dunia dari sisi yang tidak pernah Mawar lihat. Pun Mawar juga bercerita, bagaimana ia menghabiskan hari dengan terus mengagumi bulan dan matahari, yang rasanya lebih dekat jika ia juga bisa terbang.

Kenapa kamu selalu sendiri? Pipit tidak bisa menahan keingintahuannya. Ia tahu, Mawar benci akan sepi.

Aku terbawa oleh angin hingga ada di sini. Jauh dari yang lain memang inginku. Hilang dari segala hal yang membuatku sulit untuk berkembang. Mekar seperti ini. Aku ingin terus sendiri.

Tapi kamu benci sepi, dan aku pun juga.

Maka biar kebencian yang membuatmu bisa menemaniku di sini. Kita tetap bisa memiliki bintang-bintang itu hanya untuk kita berdua. Tapi kamu harus waspada. Keindahanku memiliki duri, yang aku sendiri tidak tahu kapan itu akan melukaimu.

Hari demi hari berlalu. Hujan dan badai tidak pernah bisa menghentikkan Pipit menemani Mawar. Hatinya bahkan terkadang panas merindukan tiap kelopaknya. Dia tahu, perlahan perasaan mulai tumbuh untuk Mawar. Ada ruang antara ia dan Mawar untuk tumbuh.

Tapi apa yang lebih berbahaya dari kebersamaan yang terus menuntut lebih. Mimpi-mimpi yang juga terus mereka rindukan. Mengendap menjadi angan, lalu perlahan menyiksa hati masing-masing.

Kita tidak bisa lagi bersama. Kau dan aku, kita berbeda. Mawar melepaskan kata itu. Hal yang dia dan Pipit sadari dari awal akan menjadi pemisah antara mereka berdua.

Hanya karena karena kita berbeda?

Ya.

Tapi aku tidak pernah bisa memilih ketika dilahirkan. Aku tidak pernah bisa memilih untuk menjadi apa di dunia.

Kalau begitu salahkan takdir.

Aku lebih ingin melawan, daripada menyalahkan.

Pipit mendekap Mawar. Erat. Ia tidak ingin mereka saling pergi karena berbeda, lalu menyalahkan nasib yang membuat mereka bertemu.

Sekarang kita sudah sama. Tidak ada yang perlu lagi disalahkan. Kita tidak perlu lagi saling memunggungi.

Helai bulu Pipit bewarna merah, ia terselimuti oleh darahnya sendiri. Kesakitan yang akhirnya membuat dirinya sama untuk hal yang ia cintai.

Mestinya kamu tidak terpaku pada keindahan semu, dan kini kau dan aku terluka untuk yang tidak bisa kita miliki. Mawar sendu menatap Pipit.

Tidak berselang lama hidup Pipit yang sudah terluka. Berjuang melawan perbedaan yang tidak pernah diharapkan.

Ia mati dalam helaian kelopak Mawar yang terus terjatuh. Menyelimuti tubuhnya yang menuntut untuk terus bisa bersama. Meski akhirnya keduanya harus mati terluka.

Tapi kini mereka bisa bersama, dan tidak ada perbedaan yang menyiksa lagi.

Tidak ada lagi.

RESENSI Rindu : Tere Liye

RESENSI
Rindu : Tere Liye

image

Oleh M.Z.F

“Dragging, terlalu detail, dan dramatikal.”

Tiga kesan itu yang saya dapat ketika selesai membaca novel karangan dosen FE UI ini. Rindu merupakan novel karya Tere Liye pertama yang saya beli dan baca. Sebelumnya, saya mengenal karya-karya beliau melalui film yang diangkat dari novel karangannya, dan tulisan-tulisannya yang pernah tersebar tentang kritik pemerintah. Dan pada pertemuan pertama dengan novelnya, saya mendapatkan kesan yang cukup aneh, yakni kecewa namun puas.

Rindu  menceritakan mengenai lima kisah yang berbeda, namun kelimanya bermuara pada satu ujung yang sama. Dengan mengambil latar tahun 1938, kelima kisah yang memiliki konflik berbeda ini bertemu dalam suatu perjalanan menggunakan kapal laut menuju tanah suci, Mekah. Dalam perjalanan menunaikan ibadah haji yang memakan waktu beberapa bulan perjalanan, Tuhan seakan-akan membuatnya menjadi tidak mudah dan penuh rintangan. Tapi konflik yang terjadi pada akhirnya justru mempersatukan mereka, sekaligus menjawab masalah yang menjadi beban masing-masing kisah.

Kehilangan yang dikasihi, kebencian pada seseorang yang harusnya disayangi, tentang cinta sejati, dan kemunafikan, semuanya  lebur dalam satu jawaban, Tuhan. Tere Liye seakan ingin menyampaikan, jika yang terpenting dalam sebuah pencarian bukan ada di akhir, tapi saat proses. Karena jawaban hakiki bukan berupa hal utuh yang diterima begitu saja di ujung perjalanan, namun kepingan-kepingan yang harus dikumpulkan dalam perjalanan dan saat di akhir disusun sesuai penfasiran si peminta jawaban itu sendiri.

Hal yang cukup disayangkan dalam novel ini, ialah proses penceritaan yang membosankan. Tere Liye menulis dengan begitu detail setiap hal, baik itu mengenai keadaan atau tempat. Menulis hal-hal detail sebenarnya merupakan salah satu teknik untuk membawa pembaca masuk ke dalam cerita, namun jika terlalu banyak akan membuat “cape” pembaca dan bertanya-tanya “kok gak abis-abis ya bacanya?”. Selain itu beberapa dialog yang tidak penting juga membuat bosan. Saya sendiri cukup geli membayangkan beberapa dialog jika dipraktikkan dalam kehidupan sebenarnya, dramatis.

Secara jalan cerita, novel Rindu memiliki kejutan-kejutan yang menyenangkan dan tidak terduga. Beberapa fakta sejarah yang didapatkan berdasarkan riset penulis, juga menambah wawasan pembaca. Seperti alasan kenapa Aceh disebut sebagai “Kota Serambi Mekah”, jawabannya dapat ditemukan di sini. Namun, semua cerita dibalut dengan bahasa yang cukup dramatis walau tidak sampai pada level dramatisir, serta penceritaan dan alur yang bergerak lamban membuat bosan pembaca. Rindu karya Tere Liye saya rekomendasikan untuk para pembaca yang suka dengan cerita bertema, cinta, drama, dan kerohanian.

GENRE: Drama percintaan dan kerohanian
PENERBIT: Republika
TEBAL: 544
NILAI: 7.5/10

RESENSI Nyai Dasima : S.M. Ardan dan G. Francis

RESENSI Nyai Dasima : S.M. Ardan dan G. Francis
image
Nyai Dasima

Oleh M.Z.F

“Oh gitu… Hemm…” Kata-kata itu disertai anggukan kepala mendominasi ketika membaca buku ini.

Rasa penasaran dengan sosok yang telah melegenda di Betawi ini membuat saya selama beberapa bulan sibuk mencari literature yang tepat demi menjawab ketertarikan pada Nyai Dasima. Hingga sampai pada buku yang ditulis oleh dua orang yang berbeda dan dari sudut pandang yang berbeda pula.

Siapa yang tidak mengenal Nyai Dasima? Jika tidak mengetahui kisahnya, sedikitnya orang awam pun pasti pernah mendengar namanya.

Kata “Nyai” sendiri merupakan sebuah sebutan untuk wanita pribumi yang dinikahi oleh orang asing. Tapi pernikahan tersebut biasanya berlangsung secara diam-diam, dan “Nyai” memiliki status sebagai istri simpanan tuan dari negara asing.

Kisah Nyai Dasima begitu populer di kalangan masyarakat Betawi. Sejak kemunculannya pada tahun 1896, ada begitu banyak kisah yang menyadur cerita Nyai Dasima pada tahun-tahun berikutnya. Bahkan pada masanya, kisah Nyai Dasima begitu tersohor hingga ke Hindia Belanda, Semenanjung Malaya, dan Singapura.

Sebagai cerita yang berkembang pada masa kolonial, cerita masyarakat Betawi ini tidak lepas dari pengaruh Belanda. Hal ini menyebabkan adanya dua versi cerita yang berkembang. Versi pertama yang dikarang oleh G. Francis sangat terkenal di kalangan borjouis dan sarat akan kepentingan politik pencitraan Belanda. Sedangkan di versi lainnya, kisah Nyai Dasima menjadi gambaran  kaum proletar yang ditindas dan dimanfaatkan oleh “kompeni”, versi kedua ini yang ditulis kembali oleh S.M. Ardan.

Kedua kisah ini ada di dalam buku “Nyai Dasima”, sehingga pembaca dapat dengan mudah membandingkan kedua versi tersebut.

Pada cerita Nyai Dasima versi G. Francis, orang Betawi digambarkan memiliki sifat penghasut, haus harta, pencuriga, tukang rusuh, dan hal-hal buruk lainnya, yang penyebabnya dituduhkan pada agama yang dianut orang Betawi saat itu; Islam. Nada memusuhi Islam sangat terasa pada penggambaran watak tokoh. Seluruh tokoh pribumi digambarkan memiliki watak yang jelek dan haus harta, kecuali tuan Edward. W, suami Nyai Dasima berkebangsaan Inggris.

Berbeda dengan cerita yang ditulis oleh S.M. Ardan, penggambaran masyarakat Betawi yang agamis dan patuh dengan ajaran agama Islam begitu terasa. Meskipun konflik tetap ada, tapi pemicunya bukan karena ketamakan harta. Akan tetapi lebih kepada karena rasa iba ingin menolong Nyai Dasima yang dipaksa menikah dan menjadi “Nyai”. Pada akhir cerita juga digambarkan kekejaman pemerintah kolonial yang tidak segan membunuh siapa pun yang berani membangkan, bahkan Nyai sekali pun.

Dituliskannya versi kedua Nyai Dasima oleh Ardan tak ubahnya sebagai pembelaan dan meluruskan fakta sejarah yang ada pada masa itu. Ardan seakan ingin menegaskan pada cerita yang ditulisnya, jika pemerintah kolonial sudah begitu jauhnya membelokkan sejarah dan mengatur semua hiburan yang muncul pada masa itu.

Membaca kisah “Nyai Dasima” tidak hanya menjadi hiburan, tapi juga seperti memasuki lorong waktu Jakarta tempo dulu, dan mengetahui kebudayaan pada masa itu. Terlepas dari berbagai kepentingan yang ada di dua versi cerita ini, kisah Nyai Dasima telah menjadi magnet tersendiri bagi pengagum kisah romantis berakhir tragis, hingga banyak alih wahana berupa naskah drama dan film. Ketika ingin mempelajari keadaan masyarakat Betawi zaman dulu, budaya, serta ingin mengetahui campur tangan kolonial dalam sastra dan kebudayaan masyarakat, cerita “Nyai Dasima” dapat menjadi salah satu refrensi yang tepat.

GENRE : Drama Sejarah
PENERBIT: Masup Jakarta
TEBAL: 126 Halaman
NILAI: 8/10